Minggu, 16 Mei 2010

KISAH SESENDOK MADU

Ada sebuah kisah simbolik yang cukup menarik untuk kita simak. Kisah iniadalah kisah tentang seorang raja dan sesendok madu. Alkisah, pada suatuketika seorang raja ingin menguji kesadaran warganya. Raja memerintahkanagar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan, membawa sesendokmadu untuk dituangkan dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncakbukit ditengah kota. Seluruh warga kota pun memahami benar perintah tersebutdan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya.

Tetapi dalam pikiran seorang warga kota (katakanlah si A) terlintas suatucara untuk mengelak, "Aku akan membawa sesendok penuh, tetapi bukan madu.Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungi dari pandangan mataseseorang. Sesendok airpun tidak akan mempengaruhi bejana yang kelak akandiisi madu oleh seluruh warga kota."

Tibalah waktu yang telah ditetapkan. Apa kemudian terjadi? Seluruh bejanaternyata penuh dengan air. Rupanya semua warga kota berpikiran sama dengansi A. Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambilmembebaskan diri dari tanggung jawab.

Kisah simbolik ini dapat terjadi bahkan mungkin telah terjadi, dalamberbagai masyarakat manusia. Dari sini wajar jika agama, khususnya Islam,memberikan petunjuk-petunjuk agar kejadian seperti di atas tidak terjadi:"Katakanlah (hai Muhammad), inilah jalanku. Aku mengajak ke jalan Allahdisertai dengan pembuktian yang nyata. Aku bersama orang-orang yangmengikutiku (QS 12:108)Dalam redaksi ayat di atas tercermin bahwa seseorang harus memulai daridirinya sendiri disertai dengan pembuktian yang nyata, baru kemudian diamelibatkan pengikut-pengikutnya.

"Berperang atau berjuang di jalan Allah tidaklah dibebankan kecuali padadirimu sendiri, dan bangkitkanlah semangat orang-orang mukmin(pengikut-pengikutmu) (QS 4:84)Perhatikan kata-kata "tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri." NabiMuhammad saw. pernah bersabda: "Mulailah dari dirimu sendiri, kemudiansusulkanlah keluargamu." Setiap orang menurut beliau adalah pemimpin danbertanggung jawab atas yang dipimpinnya, ini berarti bahwa setiap orangharus tampil terlebih dahulu. Sikap mental demikianlah yang dapat menjadikanbejana sang raja penuh dengan madu bukan air, apalagi racun.

Pelita Hati - M. Quraish Shihab
»»  read more

KHALIFAH GILA?

Memang betul, Khalifah Umar bin Khaththab telah berubah ingatan. Banyak yangmelihatnya dengan mata kepala sendiri. Barangkali karena Umar di masamudanya sarat dengan dosa, seperti merampok, mabuk-mabukkan, malah sukamengamuk tanpa berperi kemanusiaan, sampai orang tidak bersalah banyak yangmenjadi korban. Itulah yang mungkin telah menyiksa batinnya sehingga iaditimpa penyakit jiwa.

Dulu Umar sering menangis sendirian sesudah selesai menunaikan salat. Dantiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak, juga sendirian. Tidak ada orang lainyang membuatnya tertawa. Bukankah hal itu merupakan isyarat yang jelas bahwaUmar bin Kaththab sudah gila?

Abdurrahman bin Auf, sebagai salah seorang sahabat Umar yang paling akrab,merasa tersinggung dan sangat murung mendengar tuduhan itu. Apalagi, hampirsemua rakyat Madinah telah sepakat menganggap Umar betul-betul sinting. Dan,sudah tentu, orang sinting tidak layak lagi memimpin umat atau negara.

Yang lebih mengejutkan rakyat, pada waktu melakukan salat Jum'at yang lalu,ketika sedang berada di mimbar untuk membacakan khotbahnya,sekonyong-konyong Umar berseru, "Hai sariah, hai tentaraku. Bukit itu, bukititu, bukit itu!"Jemaah pun geger. Sebab ucapan tersebut sama sekali tidak ada kaitannyadengan isi khotbah yang disampaikan. "Wah, khalifah kita benar-benar sudahgila," gumam rakyat Madinah yang menjadi makmum salat Jumat hari itu.

Tetapi Abdurrahman tidak mau bertindak gegabah, ia harus tahu betul, apasebabnya Umar berbuat begitu. Maka didatanginya Umar, dan ditanyainya,"Wahai Amirul Mukminin. Mengapa engkau berseru-seru di sela-sela khotbahengkau seraya pandangan engkau menatap kejauhan?" Umar dengan tenangmenjelaskan, "Begini, sahabatku. Beberapa pekan yang lewat aku mengirimkanSuriah, pasukan tentara yang tidak kupimpin langsung, untuk membasmi kaumpengacau. Tatkala aku sedang berkhotbah, kulihat pasukan itu dikepung musuhdari segala penjuru. Kulihat pula satu-satunya benteng untuk mempertahankandiri adalah sebuah bukit dibelakang mereka. Maka aku berseru: bukit itu,bukit itu, bukit itu!"

Setengah tidak percaya, Abdurrahman megerutkan kening. "Lalu, mengapa engkaudulu sering menangis dan tertawa sendirian selesai melaksanakan salatfardhu?" tanya Abdurrahman pula. Umar menjawab, "Aku menangis kalau teringatkebiadabanku sebelum Islam. Aku pernah menguburkan anak perempuankuhidup-hidup. Dan aku tertawa jika teringat akan kebodohanku. Kubikin patungdari tepung gandum, dan kusembah-sembah seperti Tuhan."

Abdurrahman lantas mengundurkan diri dari hadapan Khalifah Umar. Ia belumbisa menilai, sejauh mana kebenaran ucapan Umar tadi. Ataukah hal itu justrulebih membuktikan ketidakwarasannya sehingga jawabannya pun kacau balau?Masak ia dapat melihat pasukannya yang terpisah amat jauh dari masjidtempatnya berkhotbah?

Akhirnya, bukti itupun datang tanpa dimintanya. Yaitu manakala sariah yangkirimkan Umar tersebut telah kembali ke Madinah. Wajah mereka berbinar-binarmeskipun nyata sekali tanda-tanda kelelahan dan bekas-bekas luka yangdiderita mereka. Mereka datang membawa kemenangan.

Komandan pasukan itu, pada hari berikutnya, bercerita kepada masyarakatMadinah tentang dasyatnya peperangan yang dialami mereka. "Kami dikepungoleh tentara musuh, tanpa harapan akan dapat meloloskan diri dengan selamat.Lawan secara beringas menghantam kami dari berbagai jurusan. Kami sudahluluh lantak. Kekuatan kami nyaris terkuras habis. Sampai tibalah saat salatJumat yang seharusnya kami kejakan. Persis kala itu, kami mendengar sebuahseruan gaib yang tajam dan tegas: "Bukit itu, bukit itu, bukit itu!" Tigakali seruan tersebut diulang-diulang sehingga kami tahu maksudnya.Serta-merta kami pun mundur ke lereng bukit. Dan kami jadikan bukit itusebagai pelindung di bagian belakang. Dengan demikian kami dapat menghadapiserangn tentara lawan dari satu arah, yakni dari depan. Itulah awal kejayaan

kami."

Abdurrahman mengangguk-anggukkan kepala dengan takjub. Begitu pulamasyarakat yang tadinya menuduh Umar telah berubah ingatan. Abdurrahmankemudian berkata, "Biarlah Umar dengan kelakuannya yang terkadang menyalahiadat. Sebab ia dapat melihat sesuatu yang indera kita tidak mampu melacaknya"

Dari buku Kisah Teladan - K.H. Abdurrahman Arroisi
»»  read more

Sabtu, 15 Mei 2010

BALASAN ALLAH SWT KEPADA MUJAHID

Pada suatu hari kami bersiap-siap berangkat perang. Aku meminta teman-teman membaca sebuah ayat Al-Qur’an. Salah seorang lelaki di majelis kami segera membacakan ayat 111 dari Surat At-Taubah : “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka….” Setelah pembacaan ayat tersebut, berdirilah seorang anak muda yang orang-tuanya telah meninggal dan ia satu-satunya pewaris kekayaannya yang sangat banyak.

“Hai Abdul Wahid Bin Zaid”, panggil anak muda itu. Aku menoleh ke arahnya. Lalu ia mengulang ayat tersebut diatas, dengan intonasi seolah-olah ingin meminta ketegasan dariku. “Sesungguhnya Allah SWT. membeli dari orang-orang mukmin diri mereka dan harta mereka dengan surga untuk mereka.”

“Benar, hai anak muda !” tegasku. “Aku mempersaksikan kepada engkau,” ungkap anak muda itu serius. “bahkan diriku dan hartaku kujual dengan surga untukku.” Aku berkomentar, “Sesungguhnya tajamnya pedang itu lebih berat kau tanggung daripada melepas harta bendamu. Dan engkau masih muda, aku khawatir engkau tidak bisa tabah dan lemah menghadapi pedang.”

“Hai Abdul Wahid,” sergah pemuda itu. “Aku memohon kepada Allah untuk membelinya dengan surga. Dan aku mempersaksikan kepada Allah bahwa aku telah menjualnya kepada-Nya”.

“Aku tak habis pikir, seorang anak muda punya pemikiran seperti itu, sedangkan kita tidak.” ujarku pada teman-teman lain.

Anak muda itu lantas mengeluarkan dan memberikan semua harta bendanya kepadaku untuk dibelanjakan di jalan Allah SWT, kecuali kuda dan pedangnya serta nafkah secukupnya baginya.

Ketika tiba waktunya untuk berperang, anak muda itulah yang pertama kali muncul di barisan muslimin dan mukminin pimpinanku. Ia mengucapkan salam kepadaku dan aku membalasnya. Kemudian berangkatlah kami ke medan laga. Dalam perjalanan anak muda itu berpuasa di siang hari dan beribadah di malam hari. Dia berkhidmat kepada kami, mengurus unta-unta dan kuda-kuda serta senantiasa berjaga-jaga ketika kami tidur. Setelah kami sampai di negeri Romawi, anak muda itu siap menghadapi musuh dan memanggil-manggil, “Aduh aku benar-benar ingin segera bertemu dengan Ainul Mardhiyah.” Teman-temanku berkata, “Barangkali anak muda itu bimbang dan pikirannya kacau.”

Aku segera menghampirinya, dan menanyakan, “Apakah yang kau maksud dengan Ainul Mardhiyah itu?”

“Sesungguhnya aku mengantuk sekejap waktu tadi malam,” tutur anak muda itu. “Dalam tidurku aku bermimpi seakan ada seorang lelaki mendatangiku. Ia menyuruhku menemui Ainul Mardhiyah. Aku mengikuti permintaannya dan dia mengajakku ke sebuah sungai yang sangat jernih airnya. Di pinggir sungai itu duduk bidadari-bidadari yang berhias dan berkalung. Aku sendiri tidak dapat menuturkannya dengan kata-kata. Ketika para bidadari itu melihatku, mereka bergembira sambil berkata, ” itulah suami Ainul Mardhiyah”. Aku mengucap salam dan bertanya, “Adakah Ainul Mardhiyah di antara kalian?” Mereka membalas salamku dan menjawab, “kami semua pelayannya. Teruslah engkau berjalan”. Aku terus berjalan hingga sampai ke sungai yang mengalir susu. Sungai itu berada di sebuah taman yang penuh aneka hiasan dan bidadari-bidadari. Aku merasa terpikat dengan keindahan dan keelokannya. Dan ketika para bidadari itu melihatku, mereka tersenyum gembira sambil berkata, “Demi Allah, dialah suami Ainul Mardhiyah”. Aku mengucap salam dan bertanya, “Adakah Ainul Mardhiyah di antara kalian?” Mereka menjawab, “Hai kekasih Allah, kami semua pelayannya. Teruskan perjalanan engkau”.

Aku meneruskan perjalanan, dan akhirnya tiba di sungai yang mengalir arak. Di tepian sungai itu duduk bidadari-bidadari yang lebih cantik dari bidadari-bidadari yang kulihat sebelumnya. Aku langsung mengucap salam dan bertanya, “Adakah Ainul Mardhiyah di antara kalian?” Mereka membalas salamku dan menjawab, “Kami ini pelayannya. Teruslah engkau berjalan”. Akupun melanjutkan perjalanan hingga menemukan lagi sebuah sungai yang mengalir madu yang jernih. Di kanan kirinya bergerombol bidadari-bidadari dengan pakaian dan perhiasan gemerlapan dan lebih cantik lagi. Aku kembali mengucapkan salam dan bertanya, “Adakah Ainul Mardhiyah di antara kalian?” Setelah membalas salamku mereka menjawab : “Duhai kekasih Allah, kami semuanya pelayannya. Teruskan perjalanan engkau”.

Aku meneruskan perjalananku dan pada akhirnya sampai di sebuah kemah dari intan yang putih bersih. Di pintu kemah itu ada seorang bidadari yang sangat cantik, berhias dan berkalung. “Ini pasti Ainul Mardhiyah yang dimaksud”, pikirku. Ketika bidadari itu melihatku, ia tampak sangat gembira dan memanggil-manggil ke dalam kemah : “Hai Ainul Mardhiyah, berbahagialah engkau, suamimu telah datang!”. “Oh, rupanya dia juga pelayannya”, kataku membatin.

Aku segera menghampiri kemah itu dan memasukinya setelah mengucapkan salam. Kulihat ada seorang bidadari cantik jelita dengan mata jeli tengah duduk di ranjang emas yang dihiasi mutiara dan yakut. Kecantikannya tidak dapat kulukiskan dengan kata-kata, yang pasti ia jauh lebih cantik dari bidadari-bidadari yang kulihat sebelumnya. Dengan kata lain dialah “bidadarinya dari para bidadari” atau “ratunya para bidadari”. Aku langsung sangat terpikat dan jatuh cinta padanya. Dia berkata dengan lemah lembut, “Selamat datang wahai kekasih Allah Yang Maha Rahman, engkau hampir sampai kepadaku”.

Aku sudah tidak sabar dan segera berusaha memeluknya. Tercium harum semerbak wewangian di sekelilingnya yang belum pernah kurasakan selama ini. Ternyata ia menolak pelukanku, “Sabarlah kekasihku, suamiku yang kekal abadi…….karena engkau belum diizinkan. Ruhmu masih berada di tubuhmu. Engkau baru boleh bersamaku besok malam dan untuk selama-lamanya”. Dan terbangunlah aku. “Hai Abdul Wahid, aku tidak sabar lagi menemui isteriku, bidadariku!” katanya hampir berteriak, mengakhiri cerita mimpinya. Sebenarnya percakapanku dengan anak muda itu belum selesai. Tiba-tiba datanglah serombongan pasukan musuh menyerbu kami.

Seketika bangkitlah anak muda itu dan menyongsong kedatangan mereka. Lagi-lagi ia hendak berkhidmat dan seolah ingin melindungi kami para orang tua dari sergapan musuh yang datang tiba-tiba. Setelah perang selesai aku berusaha mencari-cari anak muda itu dan melewati tempat pertempuran itu. Aku melihat anak muda itu berlumuran darah dan telah menemui ajalnya di jalan Allah dengan senyuman di bibirnya. Mungkin dia sekarang sudah berada dalam dekapan abadi Ainul Mardhiyah. (Jawad Satuju)

(Diriwayatkan oleh Al-Yaffi berdasarkan ceritera Syeikh Abdul Wahid Bin Zaid.)

»»  read more

KATA - KATA BIJAK

Istilah Islam
Kata Islam berasal dari bahasa Arab, aslama, yuslimun, islaman, yang mempunyai beberapa arti, yaitu :
1) Melepaskan diri dari penyakit lahir dan batin;
2) Kedamaian dan keamanan;
3) Ketaatan dan kepatuhan.( Depdikbud, Ensiklopedi Islam, Jakarta : PT Ichtiar Baru Van Holve, 1998.

Masjfuk Zuhdi ( 1988:15-16) memilih penjelasan etimologis, yakni mengartikan terminologi Islam ini dengan ” keselamatan , perdamaian, dan penyerahan diri kepada Tuhan”.
AlQur’an menyebut kata Islam sebanyak depalan kali,yaitu dalam surat :
QS Al-Maidah (5):3; QS Al-An’am (6):125; QS Az-Zumar (39):22; QSAsh-Shaf (61):7; QS Al-Hujarat (49):17; QS At-Taubah(9):74.
” Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Swt, dan bahwanya Nabi Muhammad itu utusan Allah Swt, engkau melaksanakan shalat, menunaikan zakat, berpuasa bulan ramadhan, dan melakukan haji jika berkuasa ” (HR Muslim)

Istilah Agama
Al Qur’an mengungkapkan dengan sebutan ad-din, seperti termaktub dalam ayat ” ..... pada hari ini, telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu ( dinakum), dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.............( QS Al Maidah (5):3. ” Sesungguhnya agama (di-na) yang diridhai disi Allah swt hanyalah Islam, (QS Ali-Imran (3):19”.

Maka apabila orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah SWT, menerima agama Islam berarti ia mendapatkan nur cahaya dari Tuhannya ( QS Az-Zumar(39):22.

Bekerjalah untuk duniamu seakan akan kamu akan hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan akan kamu akan mati besok ( Al Hadist )

Tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah ( Al Hadist)

Memikul kayu bakar lebih mulia daripada mengemis ( Al Hadist)

Seandainya seseorang mencari kayu bakar dan dipikulnya diatas punggungnya, hal itu lebih baik daripada kalau ia meminta –minta kepada seseorang yang kadang-kadang diberi , kadang kadang ditolak ( Al Hadist).

Janganlah sekali kali diantara kalian ada yang duduk- duduk enggan mencari karunia Allah, sambil berdoa : Ya Allah, limpahkanlah karunia kepadaku, padahal ia telah mengetahui bahwa langit tidak pernah menurunkan hujan emas dan perak ( Al Hadist).

Mukmin yang kuat itu lebih lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah ( Al Hadist)
Allah lebih menyukai mukmin yang bekerja …. ( Al Hadist)

Yang dinamakan iman itu ialah apabila kau meyakini didalam hati, menyatakannya dengan lidah, dan melaksanakannya dengan perbuatan ( Al Hadist)

Lihatlah, dalam kehidupan ini banyak orang yang tahu apa yang seharusnya apa yang dikerjakan,
tetapi sedikit sekali yang mengerjakan apa yang dia tahu.
You see, in life, lots of people know what to do, but few people actualy do what they know. Knowing is not enough, You must take action. ( Antony Robin ).
Athibba kasbaka tustajab da’watuka.
Perbaikilah pekerjaanmu niscaya do’amu dikabulkan ( Al Hadist)

Tidaklah sempurna iman seseorang yang hanya meyakini didalam hati dan mengucap di dalam kata, tetapi hampa dalam perbuatan. Pandai membuat pernyataan, tetapi bodoh mewujudkanya dalam kenyataan ( KH Toto Tasmara).

Amal hanya mungkin berkuaitas bila dibarengi dengan ilmu, dan ilmu yang baik adalah ilmu yang bermanfaat dan memberikan nilai kepada alam.
Bila ilmu dan manfaat telah kita miliki, selanjutnya adalah usaha kita untuk selalu mencari alamat ( arah, tujuan, kesempatan).
Iman, ilmu, amal merupakan tiga serangkai yang akan memuliakan martabat manusia. ( KH Toto Tasmara )


7 KNOW’S
Tahu siapa aku, apa kelemahanku dan kekuatanku
Know who are you, what is your strenngths and your weaknesses
Tahu apa pekerjaanku
Know your job
Tahu siapa pesaingku dan kawanku
Know your competitors and your partner
Tahu produk yang akan kau hasilkan
Know your product
Tahu apa bidang usahaku dan tujuanku
Know your company and your goal
Tahu siapa relasiku
Know your custumer
Tahu apa pesan-pesan yang akan kusampaikan
Know your message (KH Toto Tasmara)

Semua kemenangan berasal dari keberanian memulai ( Eugene F. Ware)

Semua impian bisa menjadi kenyataan – kalau kita berani mengejarnya ( Walt Disney )

Ditengah-tengah kesulitan terdapat peluang ( Albert Einstein)

Didalam masalah, terdapat emas dan salah. Ambilah emasnya, engkau akan berhasil ( Anonim)

Orang yang sukses akan memetik manfaat dari kesalahan kesalahannya, dan mencoba lagi dengan cara yang lain
( Dale Carnege)

Sikap Anda menetukan perbuatan Anda.
Perbuatan Anda menentukan prestasi Anda.
( John C Maxwell)

Kalau Anda pikir Anda kalah, ya Anda kalah.
Kalau Anda pikir Anda tidak berani, ya Anda tidak berani.
Kalau Anda ingin menang, tetapi berpikir tidak mungkin, hampir dapat dipastikan Anda tidak akan menang.
( John C Maxwell)

Anda takan pernah mencapai sukses sejati
kecuali Anda menyenangi pekerjaan Anda ( Dale Carnege)

Cara tercepat untuk mengoreksi sikap orang lain adalah
dengan mengoreksi sikap anda sendiri ( King Vindor)

Penemuan terbesar dari generasi kita adalah bahwa manusia dapat mengubah kehidupannya dengan mengubah kondisi pikirannya ( William James)

Kesalahan terbesar yang mungkin diperbuat seseorang adalah tidak berbuat apa apa ( John C Maxwell)

Kita kalah karena kita mengatakan kepada diri sendiri bahwa kita kalah. ( Leo Tolstoy )

Ingatlah selalu bahwa tekad kita sendiri untuk meraih suskses adalah jauh lebih penting dari apapun juga
( Abraham Lincoln)

Anda takan pernah mengungguli siapapun juga selama Anda hanya berusaha menyamai mereka ( John C Maxweel)

Sekarang sudah baik, besok lebih baik lagi. ( Anonim)

Hari ini lebih baik dari kemaren
Besok lebih baik dari hari ini
( Anonim)

Seorang yang optimis melihat peluang dalam setiap bencana, dan orang yang pesimis melihat bencana dalam setiap peluang ( Herbert V Prochonow)

Sembilan puluh persen dari mereka yang gagal sesungguhnya tidak kalah …. Hanya saja mereka menyerah ( Paul J Meyer)

Selalu ada cara terbaik untuk mengerjakan segala sesuatunya ( Ralph Waldo Emerson)

Kalau kita kerjakan lebih daripada yang dibayarkan, akhirnya kita akan dibayar lebih daripada yang kita kerjakan
( Zig Ziglar)

Apapun yang kamu kerjakan, kerjakanlah dengan sepenuh hatimu seperti untuk kekasihmu. ( Anomim)

Kalau kita mencintai pekerjaan kita, pekerjaan itu menjadikan kehidupan kita terasa manis, bertujuan dan berbuah ( Zig Ziglar)

Anda akan dapatkan yang terbaik dari orang lain
kalau Anda sendiri memberikan yang terbaik ( Zig Ziglar)

Kita habiskan sumber sumber daya alam
dengan menggunakannya.
Kita habiskan sumber sumber daya manusia
dengan tidak menggunakannya ( Zig Ziglar)

Kalau anda pecah sasaran sasaran Anda menjadi bagian bagian dan mulai mengatur waktu anda, segalanya akan mulai terjadi ( Zig Ziglar)

Taburlah gagasan, petiklah perbuatan;
Taburlah perbuatan, petiklah kebiasaan;
Taburlah kebiasaan, petiklah karakter;
Taburlah karakter, petiklah nasib;
( Stephen R Cohey)

KALAU ANDA MENGUBAH PEMIKIRAN ANDA,
Anda mengubah keyakinan keyakinan Anda;
Kalau Anda mengubah keyakinan keyakinan Anda,
Anda mengubah harapan harapan Anda;
Kalau Anda mengubah harapan harapan Anda,
Anda mengubah sikap Anda;
Kalau Anda mengubah Sikap Anda,
Anda mengubah tingkah laku Anda;
Kalau Anda mengubah tingkah laku anda,
Anda mengubah unjuk kerja/prestasi Anda;
Kalau Anda merubah unjuk kerja/ prestasi Anda,
ANDA MENGUBAH HIDUP ANDA.
( DR Walter Doyle Staples )

Bahwa tiada yang orang dapatkan, kecuali yang ia usahakan? ( QS 53, Surat An Najm : 39)
»»  read more

Kata Bijak - Kata Cinta

Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.
Tuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah namanya Cinta.
Ada 2 titis air mata mengalir di sebuah sungai. Satu titis air mata tu menyapa air mata yg satu lagi,” Saya air mata seorang gadis yang mencintai seorang lelaki tetapi telah kehilangannya. Siapa kamu pula?”. Jawab titis air mata kedua tu,” Saya air mata seorang lelaki yang menyesal membiarkan seorang gadis yang mencintai saya berlalu begitu sahaja.”
Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih mampu tersenyum, sambil berkata: aku turut bahagia untukmu.
Jika kita mencintai seseorang, kita akan sentiasa mendoakannya walaupun dia tidak berada disisi kita.
Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.
Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi jika kamu mahu berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga. Tapi apabila kamu Coba menutup matamu dari orang yang kamu cintai, cinta itu berubah menjadi titisan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.
Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.
Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia , lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya . Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.
Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas kurniaan itu.
Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat -Hamka
Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.
Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.
Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahawa pada akhirnya menjadi tidak bererti dan kamu harus membiarkannya pergi.
Kamu tahu bahwa kamu sangat merindukan seseorang, ketika kamu memikirkannya hatimu hancur berkeping.
Dan hanya dengan mendengar kata “Hai” darinya, dapat menyatukan kembali kepingan hati tersebut.
Tuhan ciptakan 100 bahagian kasih sayang. 99 disimpan disisinya dan hanya 1 bahagian diturunkan ke dunia. Dengan kasih sayang yang satu bahagian itulah, makhluk saling berkasih sayang sehingga kuda mengangkat kakinya kerana takut anaknya terpijak.
Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehinggalah kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna sesalan karena perginya tanpa berpatah lagi.
Jangan mencintai seseorang seperti bunga, kerana bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, kerana sungai mengalir selamanya.
Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta !
Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya.
Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit,bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus,tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur,di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.~ Hamka
Kata-kata cinta yang lahir hanya sekadar di bibir dan bukannya di hati mampu melumatkan seluruh jiwa raga, manakala kata-kata cinta yang lahir dari hati yang ikhlas mampu untuk mengubati segala luka di hati orang yang mendengarnya.
Kamu tidak pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu,dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya
Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut ke mulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.
Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak. Bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka. Bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merindu dan cemburu.
Bercinta memang mudah. Untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh.
Satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan.
»»  read more

Tanda Kebaikan Islam Seseorang

"Diriwayatkan dari Abi Hurairah radhiyallah 'anhu , ia berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: "Termasuk dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya." (HR At-Tirmidzi dan periwayat lainnya).

Imam An-Nawawi rahimahullah (wafat 676H) mengatakan dalam kitabnya, "Al-Arba'in" bahwa hadits ini derajatnya hasan. Syaikh Salim Al-Hilali mengatakan dalam kitab Shahih al-Adzkar wa dh'ifuhu bahwa hadits ini shahih lighairihi (shahih karena adanya riwayat lainnya). Kesimpulannya, hadits ini benar adanya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam .

Imam Ibnu Rajab rahimahullah (wafat 795H) mengatakan: "Hadits ini merupakan pondasi yang sangat agung di antara pondasi-fondasi adab." Dia mengatakan pula tentang pengertian hadits ini: "Sesungguhnya barangsiapa yang baik keislamannya pasti ia meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak penting baginya; ucapan dan perbuatannya terbatas dalam hal yang penting baginya." ( lihat Kitab Jami'ul 'Ulum wal Hikam).

Ukuran penting di sini bukan menurut rasa atau rasio/ akal kita yang tidak lepas dari pengaruh hawa nafsu, akan tetapi berdasarkan tuntunan syari'at Islam.

Termasuk meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak penting adalah meninggalkan hal-hal yang haram, atau hal yang masih samar, atau sesuatu yang makruh, bahkan berlebihan dalam perkara-perkara yang mubah (diboleh-kan) sekalipun, apabila tidak dibutuhkan maka termasuk kategori hal-hal yang tidak penting.

Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan pula: "Kebanyakan pendapat yang ada tentang maksud meninggalkan apa-apa yang tidak penting adalah menjaga lisan dari ucapan yang tidak berguna, sebagaimana disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala :

"Tidaklah seorang mengucapkan satu ucapan kecuali padanya ada malaikat yang mengawasi dan mencatat." (Qaaf: 18).

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata: "Barangsiapa yang membandingkan antara ucapan dan perbuatannya tentu ia akan sedikit berbicara kecuali dalam hal-hal yang penting."

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam kitabnya, Al-Adzkaar: "Ketahuilah, sesungguhnya setiap mukallaf (muslim yang dewasa dan berakal hingga terbebani hukum syari'at, red) diharuskan menjaga lisannya dari segala ucapan kecuali yang mengandung maslahat. Apabila sama maslahatnya, baik ia berbicara ataupun diam, maka sunnah untuk menahannya, karena kata-kata yang mubah dapat mengakibatkan suatu hal yang akhirnya menjurus kepada yang haram atau makruh, dan ini sering terjadi secara umum. Padahal mencari keselamatan itu tidak ada bandingannya." Artinya mencari keselamatan itu sangat penting sekali.

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah (wafat th 751H) berkata: "Menjaga lisan adalah agar jangan sampai seseorang mengucapkan kata-kata yang sia-sia. Apabila ia berkata hendaklah berkata yang diharapkan terdapat kebaikan padanya dan manfaat bagi dien (agama)nya. Apabila ia akan berbicara hendaklah ia pikirkan, apakah dalam ucapan yang akan dikeluarkan terdapat manfaat dan kebaikan atau tidak? Apabila tidak bermanfaat hendaklah ia diam, dan apabila bermanfaat hendaklah ia pikirkan lagi, adakah kata-kata lain yang lebih bermanfaat atau tidak? Supaya ia tidak menyia-nyiakan waktunya dengan yang pertama (tidak bermanfaat) itu. (Dinukil dari Kitab Ad-Daa'u wad Dawaa').

Selanjutnya beliau dalam kitabnya itu pula mengatakan, "Adalah sangat mengherankan bahwa manusia mudah dalam hal menghindari dari memakan barang haram, berbuat dzalim, berzina, mencuri, minum minuman keras, memandang pan-dangan yang diharamkan, dan lain sebagainya; tetapi sulit untuk menjaga gerakan lisannya. Sampai-sampai seseorang yang dipandang sebagai ahli agama, zuhud, gemar beribadah, tetapi dia berbicara dengan ucapan yang membuat Allah marah kepadanya. Dengan ucapannya tersebut, tanpa ia sangka-sangka menyebabkan ia terjerumus ke neraka jahanam lebih jauh jaraknya dibanding jarak antara timur dan barat.

Betapa banyak orang yang demikian, yang engkau lihat dalam hal wara', meninggalkan kekejian dan kedzaliman, tetapi lisannya diumbar ke sana ke mari menodai kehormatan orang-orang yang hidup dan yang telah meninggal dunia, tanpa mempedulikan akibat dari kata-kata yang diucapkannya."

Ancaman yang disebutkan itu berlandaskan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kata-kata, ia tidak memikirkan (apakah baik ataukah buruk) di dalamnya maka ia tergelincir disebabkan kata-kata itu ke dalam api neraka sejauh antara timur dan barat." (Muttafaq 'alaih).

Marilah kita simak pula nasihat dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin hafizhahullah, yang kami ringksakan dari kitabnya, Syarah Riyadhus Shalihin:

Seorang muslim apabila ingin baik keislamannya maka hendaklah ia meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya. Contoh, apabila engkau bingung terhadap suatu amalan, apakah engkau kerjakan atau tidak, maka lihatlah amalan itu apakah penting untukmu dalam hal dien dan dunia atau tidak penting. Jika penting maka lakukanlah, kalau tidak maka tinggalkanlah, karena keselamatan itu harus lebih diutamakan.

Demikian pula janganlah engkau ikut mencampuri urusan orang lain jika kamu tidak memiliki kepentingan dengannya. Tidak seperti yang dilakukan oleh sebagian manusia pada hari ini, yaitu rasa ingin tahu terhadap urusan orang lain; apabila ada dua orang yang sedang berbincang-bincang lalu ia datangi keduanya dengan rasa ingin tahu apa yang sedang diucapkan oleh mereka berdua. Atau terkadang mengutus orang lain untuk men-dengarkannya.

Contoh (kurang baik) yang lain lagi, jika engkau berjumpa dengan orang lain engkau bertanya kepadanya dari mana kamu, apa yang telah dikatakan si fulan kepadamu, dan apa yang kamu katakan kepadanya, dan lain sebagainya dari perkara-perkara yang tidak ada gunanya dan tak ada faedahnya, bahkan hanya membuang-buang waktu, membuat hati gelisah, dan mengacaukan pikiran serta menyia-nyiakan sebagian besar hal-hal yang penting lagi bermanfaat.

Engkau dapati seorang yang dinamis aktif dalam beramal, memiliki perhatian penuh terhadap kebaikan bagi dirinya dan hal-hal yang bermanfaat baginya, maka engkau dapatkan dia sebagai orang yang produktif.

Kesimpulannya, jika engkau ingin melakukan atau meninggalkan suatu pekerjaan, maka perhatikanlah: Apakah hal itu penting bagimu atau tidak. Jika tidak penting maka tinggalkanlah, apabila penting maka kerjakanlah sesuai dengan prioritasnya. Demikian-lah manusia yang berakal, dia sangat memperhatikan amal kebaikan sebagai persiapan menghadapi kematian. Dan dia selalu mengoreksi diri terhadap amal-amalnya selama ini.

Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua. (Abu Abdur Rahman/alsofwah).
»»  read more

Akibat Bericara Dan Beramal Tanpa Ilmu

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, artinya: "Dan janganlah engkau ikuti apa yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang-nya, sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati semuanya itu akan di tanya" (QS Al-Isra': 36).

Dan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Barang siapa berbicara tentang al Qur'an dengan akal nya atau tidak dengan ilmu, maka hendaklah ia menyiapkan tempatnya di neraka" (Hadist seperti ini ada dari 2 jalan, yaitu Ibnu Abas dan Jundub. Lihat Tafsir Qur'an yang diberi mukaddimah oleh Syeikh Abdul Qadir Al-Arnauth hal. 6, Tafsir Ibnu Katsir dalam Mukaddimah hal. 13, Jami' As-Shahih Sunan Tirmidzi jilid 5 hal.183 no. 2950 dan Tuhfatul Ahwadzi jilid 8 hal. 277).

"Barang siapa mengamalkan sesuatu amal yang tidak ada perintah kami atasnya, maka amalnya itu tertolak." (Shahih Muslim, Syarah Arba'in An-Nawawi hal. 21 Pembatalan Kemung-karan dan Bid'ah).

Dari salamah bin Akwa berkata , Aku telah mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang mengatakan atas (nama)ku apa-apa yang tidak pernah aku ucapkan, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di Neraka." (HR Al-Bukhari I/35 dan lainya).

"Cukup bohong seseorang manakala dia membicarakan setiap apa yang dia dengar." (HR. Muslim dalam muqaddimah shahihnya).

Nasihat Salafus Shalih

• Abu Darda berkata: "Kamu tidak akan menjadi orang yang bertaqwa sehingga kamu berilmu, dan kamu tidak menjadi orang yang berilmu secara baik sehingga kamu mau beramal." (Adab dalam majelis-Muhammad Abdullah Al-Khatib).

Beliau juga berkata : "Orang-orang yang menganggap pergi dan pulang menuntut ilmu bukan termasuk jihad, berarti akal dan pikiranya telah berkurang."

• Imam Hasan Al Basri mengatakan: Tafsir Surat-Baqarah ayat 201; Ya Tuhan, berikanlah kami kebaikan di dunia(ilmu dan ibadah) dan kebaikan di akhirat (Surga).

• Imam Syafi'i berkata: "Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hen-daklah dengan ilmu, barangsiapa yang menginginkan akhirat maka hendaklah dengan ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan duanya maka hendaklah dengan ilmu." (Al-Majmu', Imam An-Nawawi).

• Imam Malik berkata: "Ilmu itu tidak diambil dari empat golongan, tetapi diambil dari selainya. Tidak diambil dari orang bodoh, orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya, yang mengajak berbuat bid'ah dan pendusta sekalipun tidak sampai tertuduh mendustakan hadist-hadist Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, juga tidak diambil dari orang yang dihormati, orang saleh, dan ahli ibadah yang mereka itu tidak memahami permasalahanya. Imam Muhammad Ibnu Sirin berkata: Sesungguhnya ilmu itu dien, maka lihatlah dari siapa kamu mengambil dienmu.

Para ulama salaf memahami betul bahwa sebab-sebab terjadinya penyimpangan dikalangan orang-orang yang sesat pada asalnya karena kekeliruan tashawur (pandangan /wawasan) mereka tentang batasan ilmu (Lihat Al-Ilmu Ushulu wa Mashadiruhu wa Manahijuhu Muhammad bin Abdullah Al-Khur'an, cet. I 1412 H, Dar Al-Wathan lin Nasyr, Riyadh, hal. 7).

Orang-Orang salaf berkata :
"Waspadalah terhadap cobaan orang berilmu yang buruk (ibadahnya) dan ahli ibadah yang bodoh." (Al-wala'wal bara' hal. 230)

• Imam Asy-Syafi'i memberi nasihat kepada murid-muridnya:
Siapa yang mengambil fiqih dari kitab saja, maka ia menghilangkan banyak hukum. (Tadzkiratus sami' wal mutakallim, Al-Kannani, hal.87, Efisiensi Waktu Konsep Islam. Jasmin M. Badr Al-Muthawi, hal 44).

• Abdullah bin Al-Mu'tamir berkata: "Jika engkau ingin mengerti kesalahan gurumu, maka duduklah engkau untuk belajar kepada orang lain." (riwayat Ad-Darimi dalam Sunannya I/153)

• Riwayat Ibnu Wahab yang diterima dari Sofyan mengatakan: "Tidak akan tegak ilmu itu kecuali dengan perbuatan, juga ilmu dan perbuatan tidak akan ada artinya kecuali dengan niat yang baik. Juga ilmu, perbuatan dan niat yang baik tidak akan ada artinya kecuali bila sesuai dengan sunnah-sunnah." (Syeikh Abu Ishaq As -Syatibi, Menuju jalan Lurus).

• Ibrahim Al-Hamadhi berkta: Tidaklah dikatakan seorang itu berilmu, sekalipun orang itu banyak ilmunya. Adapun yang dikatakan Allah ortang itu berilmu adalah orang-orang yang mengikuti ilmu dan mengamalkanya, dan menetap dalam perkara As-Sunah, sekalipun jumlah ilmu-ilmu dari orang-orang tersebut hanya sedikit (Syeikh Abu Ishaq As –Syatibi, Menuju jalan Lurus).

Keutamaan pencari ilmu dan yang mengatakan seseorang itu ahli ilmu

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang mencari satu jalan menuntut ilmu niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga." (HR. Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Allah SWT berfirman: "Tidak sepatutunya bagi orang-orang mukmin itu pergi semaunya (ke medan perang), mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memeperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali." (At-Taubah: 122)

Imam Muslim mengatakan kepada Imam Bukhari: "Demi Allah tidak ada di dunia ini yang lebih pandai tentang ilmu hadist dari engkau." (Tarikh Bukhari, dalam Mukadimah Fathul Bari)

Imam Syafi'i berkomentar tentang Imam Ahmad: "Saya pergi dari kota Baghdad dan tidak saya tinggalkan di sana orang yang paling alim dalam bidang fiqih, yang paling wara' dalam agamanya dan paling berilmu selain Imam Ahmad." (Thobaqatus Syafi'I, As-Subki / Efisiensi Waktu Konsep Islam, Jasim m. Badr Al-Muthawi, hal.91)

Orang yang menuntut ilmu bukan kepada ahlinya [b/]

Dari Abdullah bin Ash ia berkata, aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu di kalangan umat manu-sia setelah dianugerahkan kepada mereka, tetapi Allah mencabut ilmu tersebut di kalangan umat manusia dengan dimatikannya para ulama, sehingga ketika tidak tersisa orang alimpun, maka manusia menjadikan orang-orang bodoh menjadi pimpinan. Mereka dimintai fatwanya, lau orang-orang bodoh tersebut berfatwa tanpa ilmu." Dalam riwayat lain: "dengan ra'yu/akal. Maka sungguh perbuatan tersebut adalah sesat dan menyesatkan." (HR. Al-Bukhari I/34).

"Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah saatnya (kebinasaannya)." (Shahih Bukhari bab Ilmu).
"Sesungguhnya termasuk tanda-tanda kiamat adalah dicarinya ilmu dari orang rendahan." (lihatkitab Silsilah Hadist Shahih no. 695).

"Ya Allah aku mohon perlindung-anMu agar aku dijauhkan dari lmu yang tidak berguna (ilmu yang tidak aku amalkan, tidak aku ajarkan dan tidak pula merubah akhlakku), dan dari hati yang tidak khusyu', dari nafsu yang tidak pernah puas dan doa yang tidak terkabulkan." ( HR. Ahmad, Ibnu Hiban dan Al-Hakim)

"Ya Allah berikanlah kepadaku manfaat dari ilmu yang Engkau anugerahklan kepadaku , dan berilah aku ilmu yang bermanfaat bagiku dan tambahkanlah kepadaku ilmu" (Jami' Ash-Shahih, Imam Tirmidzi no. 3599 Juz V hal. 54)

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang bermanfaat dan amal yang diterima" (Hisnul Muslim, hal. 44 no. 73).

"Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedangkan kamu mengetahuinya." (Al-Baqarah: 42).

"Wahai orang-orang beriman, masuklah kamu kedalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu." (Al-Baqarah: 208).

[b]Diantara buku dalam masalah ilmu:

• Tigapuluh satu nasihat untuk anda para penuntu ilmu-Faihan bin Sulaiman Al-Gharbi
• Muslim memilih ilmu – Abu Bakar Al-Jazairi
• Hilyatuthalibil'ilmi-Bakr bin Abdullah Abu Zaid
Wallahu a'lam bish-shawab

(Unang/alsofwah)
»»  read more

Check Out

 


Recent Post

Pendukung

Powered By Blogger

Status Rank

Iklan